#Indonesia_menghadapi_ACFTA_2015
Tahun 2013 adalah sejarah pertamakalinya Brazil menjadi penghasil
kedelai terbesar di dunia mengalahkan USA, Argentina, China dan Paraguay
dengan jumlah produksi kedelai sebanyak 85 juta ton/tahun. Faktor yg
menjadi penyebabnya adalah import kedelai China yg mencapai 1,4 juta ton
kedelai perminggu, keberhasilan Brazil menemukan varietas kedelai baru
yg bisa menghasilkan 4,3 ton/Ha, dukungan system mekanisasi pertanian
dan dukungan pemerintah mapping tanah pertanian menggunakan satelit
dengan akurasi 100 m2.
Mapping satelite ini membantu petani kedelai
untuk berproduksi kedelai dgn memberikan informasi tanah mana yg paling
cocok untuk bertani kedelai sekaligus memberikan informasi unsur hara
dan kadar air suatu lokasi. Informasi ini sempat disalah gunakan petani
kedelai dengan membuka kawasan hutan lindung yg akhirnya bisa
dikendalikan dengan baik. Dengan semua faktor pendukung seperti ini
petani kedelai grlap mata mabuk kepayang sangat bernafsu untuk menanam
kedelai.
Ada apa dengan China?
China sendiri berhasil
memproduksi 22 juta ton kedelai pertahun, tapi china malah meningkatkan
import kedelai mebjadi menjadi 1,4 juta ton kedelai setiap minggu.
Jawabannya adalah China mengkonversi kedelai menjadi produk bernilai
tambah.
Kedelai yg datang langsung masuk mesin triple roll hot
mill, dipisahkan crude soy oil dengan bagian padatnya. Crude soy oil
diambil terlebih dahulu bagian yg berharganya, yaitu: phytosterol stanol
ester, lesitin, plavonoid, nutracetical function dan turunan berharga
lain dari crude soy oil. Sisanya yg berupa olein dijadikan sebagai
minyak goreng rendah kolesterol.
Kecuali minyak goreng, semua yg
disebutkan tadi adalah bernilai sangat tinggi dan sangat dibutuhkan
industri pangan, kosnetik, farmasi, nutraceutical, kimia dll.
Bagian padatan mendapatkan perlakuan yg sama. Dari 23 asam amino
kedelai terdapat 5 asam amino yg menonjol. Triftopan, lysin, isolesin
dipisahkan terlebih dahulu, sisanya kemudian dijadikan soy isolate
protein dgn kandungan protein 91%, sisanya lagi digunakan untuk industri
textil premium berkualitas 5x sutra, sisanya lagi kemudian dijadikan
textured soy protein, sisanya lagi dijadikan konsentrate protein,
sisanya lagi difermentasi menjadi ribonukleatide dan peptida lain
penyedap rasa, sisanya lagi dijadikan media pembiakan japang fusarium
fenenatum kaya protein dan memiliki hypa yg mirip seperti myofibril
daging sapi yg bisa digunakan untuk memproduksi olahan daging murah tapi
memilki texture seperti serat atau myofibril daging sapi. (Campuran
isolate soy protein dan fusarium fenenatum ini hampir sempurna
menggantikan daging tapi belum memiliki rasa daging).
Sisanya
lagi digunakan untuk memproduksi kecap dan bumbu master menyerupai
kecap. Sisa yg terakhir diperuntukan mebjadi bungkil kedelai. Bungkil
ini ditingkatkan proteinnya dg fermentasi protein sel tunggal kemudian
dikeringkan untuk menjadi campuran pakan sapi, babi, ikan, bebek dan
udang.
Harga bungkil kedelai ini U$ 700/ton, beda sedikit harganya dari kedelai yg diimport dari Brazil
---------------------------------
Sebentar lagi semua produk yg sy sebutkan akan masuk ke indonesia dalam
rangka pasar bebas ACFTA 2015. Bohong kalau ada pemimpin yg bilang
siap bersaing tapi tdk memiliki pengetahuan apa-apa dan tidak melakukan
apa-apa.
Mulyana Ahmad

Tidak ada komentar:
Posting Komentar