Kamis, 04 September 2014

HALALAN TOYYIBAN














Indonesia dengan pemeluk muslim terbesar di dunia berpotensi menjadi Polisi dalam pengawasan peredaran makanan halal dan toyyib di dunia. Almarhumah Prof. DR Aisyah Girinda sudah merintisnya tahun 1990 dengan mendirikan BPPOM Halal MUI. Lembaga ini adalah yang paling disegani di regional kawasan bahkan di dunia. Sertifikasi halal yg dikeluarkan oleh lembaga halal dimasing-masing negara kadang perlu mendapatkan verifikasi dan validasi dari lembaga halal indonesia. BPPOM telah melakukan banyak hal, membuat System manajemen halal, SOP, termasuk pengendalian dokumen halal dan COA dari supplier. Supplier dari luar dipaksa untuk mematuhi aturan yg ditetapkan oleh BPPOM Halal. Menghindarinya sama saja dengan mencari mati karena tdk akan ada yg menggunakan produknya sekedar sebagai tambahan bahan makanan obat atau kosmetik. 


Lembaga ini beberapa kali mendapat tekanan. Beberapa partai politik berusaha mengintervensi untuk menguasainya dan beberapa pengusaha nasional tercatat beberapa kali ingin mengkomersialisasikan lembaga halal ini.
Ummat muslim harus ikut mengawasi asset berharga ini.

Sy memilki ide untuk meningkatkan pengaruh lembaga BPPOM halal ini agar memiliki otoritas tingkat dunia sebagaimana organisasi pangan dunia (FAO) atau organisasi kesehatan dunia (WHO). Caranya adalah dengan menjadikan lembaga halal ini menjadi lembaga pengawas HALALAN TOYYIBA tingkat dunia. Lembaga tertinggi yang mengawasi produk halal lagi baik (Toyyib). 

Halal sendiri didefinisikan sebuah makanan disiapkan secara syariat islam. Tatacara penyiapan, tata cara penyembelihan sampai tatacara penyajian. Tidak mengandung alkohol, babi, anjing dan segala sesuatu yang dilarang oleh syariat Islam. Toyyib didefinisikan sebagai kualitas mutu terbaik hasil dari sebuah system good manufactory process.



BAGAIMANA CARANYA?
BPPOM sebagai otoritas tertinggi harus dibekali instrument pengontrol akurat , stabil, terpercaya, ringkas dan mudah untuk menampilkan parameter ukuran mutu dan halal secara kualitatif maupun kuantitatif. Seperti biasanya nanoteknologi memiliki semua potensi ini. Indonesia harus memilih salah satu potensi raksasa dari segala kebaikan nanoteknologi. Kandidat byg saya tawarkan adalah agar BPPOM dengan sungguh-sungguh mengembangkan NANOBIOSENSOR. 


Nanobiosensor adalah sensor dalam orde nano yg terdiri dari heterogen nanocatalyst dengan enzyme dan plasmon nanogold yg dihubungkan dengan device electronic. Nanobiosensor ini bukan hal baru, sudah banyak digunakan oleh masyarakat luas tapi tdk menyadarinya. Salah satu wujud nanobiosensor sederhana adalah test kit kehamilan atau kesuburan.. Nanobiosensor yg harus dikembangkan oleh BPPOM adalah yg memiliki kemampuan:
1. Mendeteksi trigyserida lemak babi, DNA, ATP, ADP babi dan anjing
2. Mendeteksi keberadaan alkohol
3 Mendeteksi toksin, bakteri dan mikroorganisme pathogen
4. Mendeteksi logam berat dan foreign material terlarang
5. Mendeteksi pengawet terlarang, kimia terlarang, pewarna terlarang
6. Mendeteksi HEX 32, pshycotrophica dll
7 Mendeteksi kadaluarsa termasuk pemberian barcon standard BPPOM yg bisa berubah warna ketika produk sdh mengalami penurunan mutu


Jangan khawatir dgn bentuk jadi alat ini. Bentuknya sangat kecil dan mudah dibawa2, tingkat akurasi dalam orde nano. Satu alat memeliki beberapa fungsi sekaligus. Rasanya upaya ini akan mendapat dukungan dari perlindungan konsumen. Setiap Supermarket diwajibkan memeasang alat ini di setiap gerainya.
Mimpi ini bisa terwujud selagi ada anak muda yang mau belajar, orang kaya yg mau berinfak, peneliti yang berkarakter dan ummat yg mau memperoleh pahala. Tentunya juga ulil amri yg mau mendukung


#‎Indonesia_bisa‬ Mulyana Ahmad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar